Sore tadi, saya sedang duduk bercerita dengan seorang teman.
![]() |
| Gambar Ilustrasi dari seorang teman di Santian |
Teman itu bertanya sambil menyeruput kopi.
"Pak, saya dengar Bapak sedang mengurus pemasangan Smart Board di puluhan kecamatan. Lumayan besar juga ya proyeknya?"
Dia menyodorkan rokok masih dalam bungkusan. Saya menolak.
"Justru bukan proyek Smart Board-nya yang besar."
Dia mengernyit.
"Lho, bukannya ratusan sekolah?"
"Yang besar itu manajemennya."
"Maksudnya?"
Saya mengambil kertas dan mulai menggambar.
"Begini. Banyak orang mengira proyek ini hanya soal memasang bracket di dinding lalu menggantung Smart Board."
"Lalu?"
"Itu hanya 20% pekerjaan."
Dia mulai tertarik.
"80% sisanya?"
"Koordinasi manusia."
Dia tertawa.
"Ah masa?"
"Sangat serius."
Saya menggambar dengan pensil di atas sebuah kertas.
"Misalnya ada 700 sekolah penerima bantuan."
"Ya."
"Kalau setiap sekolah mendapat tiga unit Smart Board, berarti ada 2.100 unit yang harus dipasang."
Dia mengangguk.
"Lalu?"
"Sekarang bayangkan ada 32 kecamatan."
"Iya."
"Kalau satu teknisi terlambat satu hari saja, mungkin tidak terasa."
"Betul."
"Tapi kalau 50 teknisi terlambat satu hari bersamaan?"
Dia mulai menghitung.
"Wah..."
"Itu bisa menjadi keterlambatan puluhan bahkan ratusan titik pemasangan."
Dia mengangguk.
"Berarti masalahnya bukan Smart Board?"
"Betul."
"Masalahnya manusia."
Saya tersenyum.
"Setiap proyek besar pada akhirnya adalah proyek mengelola manusia."
Dia lalu bertanya.
"Kalau begitu apa yang sebenarnya dijual vendor?"
"Vendor tidak menjual Smart Board."
Dia terdiam.
"Lho?"
"Mereka menjual kepastian."
"Kepastian apa?"
"Bahwa ribuan perangkat bisa sampai, dipasang, didokumentasikan, diverifikasi, dilaporkan, dan dapat dipertanggungjawabkan."
Dia mulai memahami.
"Jadi pemasangan hanya sebagian kecil?"
"Ya."
Saya lalu menggambar alur.
Vendor
Koordinator Provinsi
Koordinator Kabupaten
Koordinator Kecamatan
Teknisi
Sekolah
"Semakin panjang rantai ini, semakin besar risiko."
"Risiko apa?"
"Salah informasi."
"Satu contoh?"
"Saya kirim pesan ke 50 teknisi."
"Lalu?"
"Yang memahami benar mungkin 40 orang."
"Yang lain?"
"5 orang lupa."
"5 orang salah paham."
Dia tertawa.
"Benar juga."
"Makanya proyek besar bukan soal alat. Proyek besar adalah soal sistem."
Dia kembali bertanya.
"Kalau teknisinya hebat semua?"
"Itu bagus."
"Tapi?"
"Dokumentasinya buruk, tetap tidak dibayar."
Dia tertawa lebih keras.
"Masa?"
"Sangat mungkin."
Saya menunjukkan .pdf materi dari vendor.
Foto papan nama sekolah.
Foto paket dalam kardus.
Foto proses pemasangan.
Foto barcode.
Foto perangkat.
Foto aplikasi Indonesia Cerdas.
"Kalau satu foto hilang?"
"Bisa ditolak?"
"Bisa."
Dia mengelus dagunya yang berjanggut.
"Jadi yang menentukan pembayaran bukan hanya pemasangan?"
"Betul."
"Yang menentukan pembayaran adalah bukti bahwa pemasangan sudah dilakukan."
Dia mulai mengangguk-angguk.
"Lalu apa tantangan terbesar?"
Saya menjawab singkat.
"Kecepatan."
"Kenapa?"
"Karena bonus mengikuti kecepatan. Tahulah, di Kabupaten TTS akses jalan di Kecamatan ke Desa cukup sulit, belum lagi kendala listrik dan internet."
"Jadi teknisi yang cepat karena didukung akses dan jaringan lebih untung?"
"Ya."
"Tapi kalau terlalu cepat?"
"Nah, itu masalah berikutnya."
Dia tertawa.
"Maksudnya?"
"Kalau cepat tapi salah dokumentasi, revisi."
"Kalau revisi?"
"Terlambat."
"Kalau terlambat?"
"Poin turun."
Dia menggeleng.
"Rumit juga."
"Karena proyek seperti ini sebenarnya bukan proyek pemasangan."
"Lalu proyek apa?"
"Proyek eksekusi."
Saya melanjutkan.
"Negara bisa membeli ribuan Smart Board."
"Ya."
"Vendor bisa mengirim ribuan Smart Board."
"Ya."
"Tapi yang menentukan keberhasilan program adalah apakah di hari itu ada seorang teknisi yang benar-benar datang ke sekolah, memasang alatnya dengan benar, menghubungkannya ke aplikasi, mengisi berita acara, mengambil dokumentasi, lalu mengirim laporan."
Dia terdiam beberapa saat.
"Berarti yang paling berharga bukan Smart Board?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Jaringan manusia yang bisa mengeksekusi."
Dia tersenyum.
"Mengapa pemasangan tidak dilakukan oleh guru saja atau operator dapodik sekolah?"
"Guru digaji bukan untuk menjadi teknisi tapi mengajar."
"Ada benarnya."
"Proses pemasangan serentak secara nasional tentu mampu menjangkau setiap sekolah dengan standar yang sama, dokumentasi yang lengkap, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan."
"Sekarang saya paham kenapa Bapak sibuk merekrut orang."
Saya ikut tersenyum.
"Karena dalam proyek seperti ini, Smart Board hanya aset."
"Yang menentukan keberhasilan adalah orang-orang yang menggerakkan aset itu."
Dia menghabiskan kopinya lalu berkata pelan.
"Jadi sebenarnya yang sedang Bapak bangun bukan tim pemasangan Smart Board."
"Saya sedang membangun jaringan eksekutor lapangan."
"Dan kalau jaringan itu berhasil?"
"Besok bukan hanya Smart Board."
"Bisa jaringan internet sekolah, CCTV, laboratorium digital, bahkan proyek nasional lainnya."
Dia mengangguk pelan sambil tersenyum,
"Asal jangan chromebook o, Nadim (Makarim) tidak korupsi sepeser tapi kena vonis 18 tahun."
"Betul, Bos MBG (Makan Bergizi Gratis) juga sudah kena tangkap satu hari setelah diberhentikan"
"Iya e."
"Ini tentang membangun mesin eksekusi sampai ke kecamatan dan sekolah-sekolah paling jauh hingga ke kampung-kampung. Mesinnya harus sehat."
Saya tersenyum.
"Dan mesin seperti itu nilainya jauh lebih mahal daripada Smart Board yang dipasang di dinding."
Oetalu, 4 Juni 2026
***
