Malam ini, seorang teman menelepon saya. Via Vidio Call di Whatsapp. Sesama koordinator.
"Kakak, saya lihat grup Smart Board sedang ramai. Banyak yang mundur. Banyak yang mempertanyakan insentif. Sebenarnya masalahnya apa?"
Saya tersenyum.
"Karena mereka masih melihat proyek ini dari angka Rp150.000 per titik."
"Maksudnya?"
"Sementara saya melihatnya dari sudut yang berbeda."
"Mantap."
Kebetulan saya sedang membuka laptop dan menunjukkan daftar kabupaten yang sudah mengirim data teknisi.
SBD.
Belu.
Ngada.
Lembata.
Manggarai.
Sumba Barat.
TTU.
Flores Timur.
Sumba Tengah.
Nagekeo.
Rote Ndao.
TTS.
Kota Kupang.
"Menurutmu apa yang paling sulit dari daftar ini?"
Dia melihat beberapa saat.
"Luas wilayahnya?"
"Bukan."
"Jumlah sekolahnya?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Sumber daya manusianya."
Dia tertawa.
"Masa?"
"Sangat serius."
Saya lalu menunjukkan percakapan para koordinator.
Ada yang mengeluh teknisi mengundurkan diri.
Ada yang mengatakan vendor lain menawarkan bayaran lebih besar.
Ada yang mempertanyakan biaya transportasi.
Ada yang membandingkan pembayaran per unit dan per titik.
"Kalau begitu memang masalahnya uang."
Dia menegaskan.
"Sekilas iya."
"Tapi?"
"Masalah sebenarnya bukan uang."
"Lalu?"
"Ketidakpastian."
Dia mulai tertarik.
"Jelaskan."
Saya menjelaskan seolah-olah paling paham.
"Sekolah ini dapat tiga unit Smart Board."
"Ya."
"Kalau sekolahnya ada di pusat kota, mungkin pekerjaan selesai dalam satu jam."
"Masuk akal."
"Lalu bayangkan sekolah berikutnya."
Saya menggambarkan titik lain yang jauh.
"Harus menyeberang laut atau sungai."
"Ya."
"Atau melewati jalan batu."
"Ya."
"Atau listriknya padam."
"Ya."
"Atau internet tidak ada."
"Ya."
"Sampai di sana ternyata sekolah belum punya papan nama."
Dia mulai tertawa.
"Wah."
"Nah, sekarang teknisi mulai bertanya."
"Pertanyaan apa?"
'Apakah Rp150.000 cukup?'
Saya tersenyum.
"Pertanyaan itu wajar."
"Kenapa?"
"Karena teknisi menghitung dari biaya yang terlihat."
"BBM."
"Makan."
"Waktu."
"Tenaga."
"Risiko."
Dia mengangguk.
"Benar juga."
"Tapi vendor menghitung dari sisi berbeda."
"Maksudnya?"
"Vendor melihat ribuan sekolah di seluruh Indonesia."
"Ya."
"Kalau satu titik dibayar terlalu besar, seluruh model bisnis dia bisa berubah."
Dia terdiam.
"Saya mulai paham."
Saya melanjutkan.
"Makanya dalam proyek seperti ini akan selalu ada cerita."
"Ada yang bilang vendor lain bayar Rp250.000 per unit."
"Ada yang bilang Rp300.000 per unit."
"Ada yang bilang Rp600.000 per titik."
"Bahkan ada yang bercanda Rp4 juta per unit."
Dia tertawa keras.
"Memang ada?"
Saya mengangkat bahu.
"Dalam dunia proyek, rumor selalu bergerak lebih cepat daripada dokumen resmi."
Dia mengangguk pelan.
"Jadi bagaimana cara mengelola situasi seperti itu?"
"Sederhana."
"Bagaimana?"
"Fokus pada fakta."
"Fakta apa?"
"Apakah proyeknya benar ada."
"Apakah vendor jelas."
"Apakah mekanisme kerja jelas."
"Apakah pembayaran jelas."
"Apakah bonus jelas."
"Apakah pekerjaan ini benar-benar bisa dikerjakan."
Dia mengangguk.
"Masuk akal."
Saya lalu berkata.
"Masalah terbesar bukan teknisi yang bertanya."
"Bukan juga teknisi yang membandingkan."
"Lalu?"
"Teknisi yang diam lalu menghilang."
Dia tertawa.
"Itu benar. Salah satu teknisi saya keluar dari grup."
Saya menambahkan.
"Karena proyek gagal bukan karena alat."
"Proyek nasional gagal karena koordinasi."
Saya lalu menunjukkan satu contoh.
"Bayangkan ada sekolah."
"Teknisi datang."
"Smart Board sudah terpasang."
"Lalu?"
"Tidak ada internet."
"Berarti selesai?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Harus ada surat pernyataan dari sekolah."
"Kalau tidak ada listrik?"
"Harus ada surat pernyataan."
"Kalau tidak ada papan nama sekolah?"
"Harus ada surat pernyataan."
Dia mulai memahami.
"Jadi yang berat bukan memasang Smart Board?"
"Persis."
"Yang berat adalah administrasi."
"Yang berat adalah dokumentasi."
"Yang berat adalah memastikan setiap titik dapat dipertanggungjawabkan."
Saya menutup laptop.
"Ini tentang bagaimana menemukan orang-orang yang bersedia bekerja ketika jalan rusak."
"Ketika sinyal hilang."
"Ketika listrik padam."
"Ketika sekolah jauh."
"Ketika administrasi rumit."
"Dan tetap menyelesaikan pekerjaan dengan benar."
Dia tersenyum.
"Kakak ini tambah enak e, berarti bayaran bukan menjadi masalah ya? "
Saya ikut tersenyum.
"Bukan."
"Lalu?"
"Orang yang tetap bertahan ketika yang lain memilih mundur."
"Pukameo, asek !"
Oetalu, 4 Juni 2026
***
