Rabu, 03 Juni 2026

Orang yang tetap bertahan ketika yang lain memilih mundur


Malam ini, seorang teman menelepon saya. Via Vidio Call di Whatsapp. Sesama koordinator.

"Kakak, saya lihat grup Smart Board sedang ramai. Banyak yang mundur. Banyak yang mempertanyakan insentif. Sebenarnya masalahnya apa?"

Saya tersenyum.

"Karena mereka masih melihat proyek ini dari angka Rp150.000 per titik."

"Maksudnya?"

"Sementara saya melihatnya dari sudut yang berbeda."

"Mantap."

Kebetulan saya sedang membuka laptop dan menunjukkan daftar kabupaten yang sudah mengirim data teknisi.

"Menurutmu apa yang paling sulit dari daftar ini?"

Dia melihat beberapa saat.

"Luas wilayahnya?"

"Bukan."

"Jumlah sekolahnya?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Sumber daya manusianya."

Dia tertawa.

"Masa?"

"Sangat serius."

Saya lalu menunjukkan percakapan para koordinator.

Ada yang mengeluh teknisi mengundurkan diri.

Ada yang mengatakan vendor lain menawarkan bayaran lebih besar.

Ada yang mempertanyakan biaya transportasi.

Ada yang membandingkan pembayaran per unit dan per titik.

"Kalau begitu memang masalahnya uang."

Dia menegaskan.

"Sekilas iya."

"Tapi?"

"Masalah sebenarnya bukan uang."

"Lalu?"

"Ketidakpastian."

Dia mulai tertarik.

"Jelaskan."

Saya menjelaskan seolah-olah paling paham.

"Sekolah ini dapat tiga unit Smart Board."

"Ya."

"Kalau sekolahnya ada di pusat kota, mungkin pekerjaan selesai dalam satu jam."

"Masuk akal."

"Lalu bayangkan sekolah berikutnya."

Saya menggambarkan titik lain yang jauh.

"Harus menyeberang laut atau sungai."

"Ya."

"Atau melewati jalan batu."

"Ya."

"Atau listriknya padam."

"Ya."

"Atau internet tidak ada."

"Ya."

"Sampai di sana ternyata sekolah belum punya papan nama."

Dia mulai tertawa.

"Wah."

"Nah, sekarang teknisi mulai bertanya."

"Pertanyaan apa?"

'Apakah Rp150.000 cukup?'

Saya tersenyum.

"Pertanyaan itu wajar."

"Kenapa?"

"Karena teknisi menghitung dari biaya yang terlihat."

"BBM."

"Makan."

"Waktu."

"Tenaga."

"Risiko."

Dia mengangguk.

"Benar juga."

"Tapi vendor menghitung dari sisi berbeda."

"Maksudnya?"

"Vendor melihat ribuan sekolah di seluruh Indonesia."

"Ya."

"Kalau satu titik dibayar terlalu besar, seluruh model bisnis dia bisa berubah."

Dia terdiam.

"Saya mulai paham."

Saya melanjutkan.

"Makanya dalam proyek seperti ini akan selalu ada cerita."

"Ada yang bilang vendor lain bayar Rp250.000 per unit."

"Ada yang bilang Rp300.000 per unit."

"Ada yang bilang Rp600.000 per titik."

"Bahkan ada yang bercanda Rp4 juta per unit."

Dia tertawa keras.

"Memang ada?"

Saya mengangkat bahu.

"Dalam dunia proyek, rumor selalu bergerak lebih cepat daripada dokumen resmi."

Dia mengangguk pelan.

"Jadi bagaimana cara mengelola situasi seperti itu?"

"Sederhana."

"Bagaimana?"

"Fokus pada fakta."

"Fakta apa?"

"Apakah proyeknya benar ada."

"Apakah vendor jelas."

"Apakah mekanisme kerja jelas."

"Apakah pembayaran jelas."

"Apakah bonus jelas."

"Apakah pekerjaan ini benar-benar bisa dikerjakan."

Dia mengangguk.

"Masuk akal."

Saya lalu berkata.

"Masalah terbesar bukan teknisi yang bertanya."

"Bukan juga teknisi yang membandingkan."

"Lalu?"

"Teknisi yang diam lalu menghilang."

Dia tertawa.

"Itu benar. Salah satu teknisi saya keluar dari grup."

Saya menambahkan.

"Karena proyek gagal bukan karena alat."

"Proyek nasional gagal karena koordinasi."

Saya lalu menunjukkan satu contoh.

"Bayangkan ada sekolah."

"Teknisi datang."

"Smart Board sudah terpasang."

"Lalu?"

"Tidak ada internet."

"Berarti selesai?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Harus ada surat pernyataan dari sekolah."

"Kalau tidak ada listrik?"

"Harus ada surat pernyataan."

"Kalau tidak ada papan nama sekolah?"

"Harus ada surat pernyataan."

Dia mulai memahami.

"Jadi yang berat bukan memasang Smart Board?"

"Persis."

"Yang berat adalah administrasi."

"Yang berat adalah dokumentasi."

"Yang berat adalah memastikan setiap titik dapat dipertanggungjawabkan."

Saya menutup laptop.

"Ini tentang bagaimana menemukan orang-orang yang bersedia bekerja ketika jalan rusak."

"Ketika sinyal hilang."

"Ketika listrik padam."

"Ketika sekolah jauh."

"Ketika administrasi rumit."

"Dan tetap menyelesaikan pekerjaan dengan benar."

Dia tersenyum.

"Kakak ini tambah enak e, berarti bayaran bukan menjadi masalah ya? "

Saya ikut tersenyum.

"Bukan."

"Lalu?"

"Orang yang tetap bertahan ketika yang lain memilih mundur."

"Pukameo, asek !"

Oetalu, 4 Juni 2026

***


Sore tadi, saya sedang duduk bercerita dengan seorang teman

Sore tadi, saya sedang duduk bercerita dengan seorang teman.

Gambar Ilustrasi dari seorang teman di Santian
Gambar Ilustrasi dari seorang teman di Santian


Teman itu bertanya sambil menyeruput kopi.

"Pak, saya dengar Bapak sedang mengurus pemasangan Smart Board di puluhan kecamatan. Lumayan besar juga ya proyeknya?"

Dia menyodorkan rokok masih dalam bungkusan. Saya menolak.

"Justru bukan proyek Smart Board-nya yang besar."

Dia mengernyit.

"Lho, bukannya ratusan sekolah?"

"Yang besar itu manajemennya."

"Maksudnya?"

Saya mengambil kertas dan mulai menggambar.

"Begini. Banyak orang mengira proyek ini hanya soal memasang bracket di dinding lalu menggantung Smart Board."

"Lalu?"

"Itu hanya 20% pekerjaan."

Dia mulai tertarik.

"80% sisanya?"

"Koordinasi manusia."

Dia tertawa.

"Ah masa?"

"Sangat serius."

Saya menggambar dengan pensil di atas sebuah kertas.

"Misalnya ada 700 sekolah penerima bantuan."

"Ya."

"Kalau setiap sekolah mendapat tiga unit Smart Board, berarti ada 2.100 unit yang harus dipasang."

Dia mengangguk.

"Lalu?"

"Sekarang bayangkan ada 32 kecamatan."

"Iya."

"Kalau satu teknisi terlambat satu hari saja, mungkin tidak terasa."

"Betul."

"Tapi kalau 50 teknisi terlambat satu hari bersamaan?"

Dia mulai menghitung.

"Wah..."

"Itu bisa menjadi keterlambatan puluhan bahkan ratusan titik pemasangan."

Dia mengangguk.

"Berarti masalahnya bukan Smart Board?"

"Betul."

"Masalahnya manusia."

Saya tersenyum.

"Setiap proyek besar pada akhirnya adalah proyek mengelola manusia."

Dia lalu bertanya.

"Kalau begitu apa yang sebenarnya dijual vendor?"

"Vendor tidak menjual Smart Board."

Dia terdiam.

"Lho?"

"Mereka menjual kepastian."

"Kepastian apa?"

"Bahwa ribuan perangkat bisa sampai, dipasang, didokumentasikan, diverifikasi, dilaporkan, dan dapat dipertanggungjawabkan."

Dia mulai memahami.

"Jadi pemasangan hanya sebagian kecil?"

"Ya."

Saya lalu menggambar alur.

Vendor

Koordinator Provinsi

Koordinator Kabupaten

Koordinator Kecamatan

Teknisi

Sekolah

"Semakin panjang rantai ini, semakin besar risiko."

"Risiko apa?"

"Salah informasi."

"Satu contoh?"

"Saya kirim pesan ke 50 teknisi."

"Lalu?"

"Yang memahami benar mungkin 40 orang."

"Yang lain?"

"5 orang lupa."

"5 orang salah paham."

Dia tertawa.

"Benar juga."

"Makanya proyek besar bukan soal alat. Proyek besar adalah soal sistem."

Dia kembali bertanya.

"Kalau teknisinya hebat semua?"

"Itu bagus."

"Tapi?"

"Dokumentasinya buruk, tetap tidak dibayar."

Dia tertawa lebih keras.

"Masa?"

"Sangat mungkin."

Saya menunjukkan .pdf materi dari vendor.

Foto papan nama sekolah.

Foto paket dalam kardus.

Foto proses pemasangan.

Foto barcode.

Foto perangkat.

Foto aplikasi Indonesia Cerdas.

"Kalau satu foto hilang?"

"Bisa ditolak?"

"Bisa."

Dia mengelus dagunya yang berjanggut.

"Jadi yang menentukan pembayaran bukan hanya pemasangan?"

"Betul."

"Yang menentukan pembayaran adalah bukti bahwa pemasangan sudah dilakukan."

Dia mulai mengangguk-angguk.

"Lalu apa tantangan terbesar?"

Saya menjawab singkat.

"Kecepatan."

"Kenapa?"

"Karena bonus mengikuti kecepatan. Tahulah, di Kabupaten TTS akses jalan di Kecamatan ke Desa cukup sulit, belum lagi kendala listrik dan internet."

"Jadi teknisi yang cepat karena didukung akses dan jaringan lebih untung?"

"Ya."

"Tapi kalau terlalu cepat?"

"Nah, itu masalah berikutnya."

Dia tertawa.

"Maksudnya?"

"Kalau cepat tapi salah dokumentasi, revisi."

"Kalau revisi?"

"Terlambat."

"Kalau terlambat?"

"Poin turun."

Dia menggeleng.

"Rumit juga."

"Karena proyek seperti ini sebenarnya bukan proyek pemasangan."

"Lalu proyek apa?"

"Proyek eksekusi."

Saya melanjutkan.

"Negara bisa membeli ribuan Smart Board."

"Ya."

"Vendor bisa mengirim ribuan Smart Board."

"Ya."

"Tapi yang menentukan keberhasilan program adalah apakah di hari itu ada seorang teknisi yang benar-benar datang ke sekolah, memasang alatnya dengan benar, menghubungkannya ke aplikasi, mengisi berita acara, mengambil dokumentasi, lalu mengirim laporan."

Dia terdiam beberapa saat.

"Berarti yang paling berharga bukan Smart Board?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Jaringan manusia yang bisa mengeksekusi."

Dia tersenyum.

"Mengapa pemasangan tidak dilakukan oleh guru saja atau operator dapodik sekolah?"

"Guru digaji bukan untuk menjadi teknisi tapi mengajar."

"Ada benarnya."

"Proses pemasangan serentak secara nasional tentu mampu menjangkau setiap sekolah dengan standar yang sama, dokumentasi yang lengkap, dan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan."

"Sekarang saya paham kenapa Bapak sibuk merekrut orang."

Saya ikut tersenyum.

"Karena dalam proyek seperti ini, Smart Board hanya aset."

"Yang menentukan keberhasilan adalah orang-orang yang menggerakkan aset itu."

Dia menghabiskan kopinya lalu berkata pelan.

"Jadi sebenarnya yang sedang Bapak bangun bukan tim pemasangan Smart Board."

"Saya sedang membangun jaringan eksekutor lapangan."

"Dan kalau jaringan itu berhasil?"

"Besok bukan hanya Smart Board."

"Bisa jaringan internet sekolah, CCTV, laboratorium digital, bahkan proyek nasional lainnya."

Dia mengangguk pelan sambil tersenyum,

"Asal jangan chromebook o, Nadim (Makarim) tidak korupsi sepeser tapi kena vonis 18 tahun."

"Betul, Bos MBG (Makan Bergizi Gratis) juga sudah kena tangkap satu hari setelah diberhentikan"

"Iya e."

"Ini tentang membangun mesin eksekusi sampai ke kecamatan dan sekolah-sekolah paling jauh hingga ke kampung-kampung. Mesinnya harus sehat."

Saya tersenyum.

"Dan mesin seperti itu nilainya jauh lebih mahal daripada Smart Board yang dipasang di dinding."

Oetalu, 4 Juni 2026

***

Selasa, 28 Juni 2016

Komponen Pendukung Sistem Pendukung Keputusan (SPK)


Komponen Sistem Pendukung Keputusan

Turban (1998) mengemukakan bahwa sebuah sistem pendukung keputusan terdiri atas dibangun dari beberapa subsistem, antara lain :

a)      Subsistem manajemen data, meliputi basis data yang mengandung data yang relevan dengan keadaan yang ada dan dikelola oleh sebuah sistem yang dikenal sebagai database management system (DBMS).

b)      Subsistem manajemen model, yaitu sebuah paket perangkat lunak yang berisi model-model finansial , statistik, management science, atau model kuantitatif yang lain yang menyediakan kemampuan analisis sistem dan management software yang terkait.

c)      Subsistem manajemen pengetahuan (knowledge) yaitu subsistem yang mampu mendukung subsistem yang lain atau berlaku sebagai sebuah komponen yang berdiri sendiri (independen) 

d)     Subsistem antarmuka pengguna (user Interface), yang merupakan media tempat komunikasi antara pengguna dan sistem pendukung keputusan serta tempat pengguna memberikan perintah kepada sistem pendukung keputusan.

Subsistem Manajemen Data

Subsistem manajeman data dibangun dari elemen-elemen antara lain basis data SPK, DBMS (Database Management System), direktori data dan fasilitas query.

Basis data adalah kumpulan dari data yang saling terhubung dan dikelola sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan struktur dari sebuah organisasi yang bisa digunakan oleh lebih dari satu orang dan lebih dari satu aplikasi. Data dari basis data sebuah SPK didapatkan dari sumber data internal dan sumber data eksternal.

Data internal pada umumnya berasal dari sistem pemrosesan transaksi organisasi serta berbagai data operasi dari bidang fungsional. Jenis data yang tergolong data jenis ini misalnya pembayaran bulanan, penjadwalan perawatan mesin, penaksiran penjualan yang akan datang, cost of out-stock item, dan future hiring plans.

Data eksternal yaitu data-data yang berasal dari luar organisasi atau organisasi lain misalnya pemerintah atau asosiasi perdagangan , tapi mempunyai pengaruh terhadap organisasi. Data ini mungkin dimasukkan ketika SPK dipakai atau sebelumnya disimpan di dalam basis data SPK. Contoh dari data jenis ini antara lain data industri, data riset marketing, data sensus, data ekonomi nasional, dan lain-lain.

Data Personal (private data) meruapkan jenis data lain yang digunakan oleh pembuat keputusan untuk penaksiran terhadapa data spesifik dalam keadaan tertentu.
Organisasi data untuk SPK berbeda-beda tergantung kebutuhan dari SPK tersebut. Organisasi berupa data warehouse sering digunakan untuk membangun aplikasi SPK. SPK yang berukuran besar biasanya memiliki mempunyai organisasi datanya sendiri yang terintegrasi, berupa basis data SPK multiple sources. Namun basis data SPK bisa juga dibangun untuk bisa berbagi dengan DBMS yang lain dan secara fisik ditempatkan di tempat yang sama dengan alasan biaya dan segi ekonomisnya.

Ekstraksi data merupakan suatu proses yang dikelola oleh DBMS yang meliputi proses meng-import , meringkas, menyaring dan mempersingkat data.

DBMS menyediakan fasilitas untuk proses-proses antara lain yaitu membuat database, mengakses database dan mengupdate database. DBMS juga mempunyai kemampuan tambahan seperti menghubungkan data dari sumber yang berbeda, melakukan proses query dan report dari data yang ada, menyediakan metode pengamanan data, melakukan proses manipulasi data yang kompleks, dan mengelola data lewat sebuah kamus data (data dictionary). 

Fasilitas query dimaksudkan agar kita bisa melakukan akses data, manipulasi data dan melakukan permintaan terhadap suatu data tertentu dalam kaitan membangun dan menggunakan SPK. Fasilitas query menerima permintaan dari komponen SPK yang lain, kemudian menentukan bagaimana permintaan tersebut bisa dipenuhi, dan kemudian melakukan formulasi terhadap detail permintaan kemudian membrikan hasil kepada komponen yang melkukan permintaan. Fasilitas query dilengkapi dengan sebuah bahasa query yang khusus, umumnya disebut Structure Query Language (SQL).

Direktori data adalah katalog dari semua data yang ada di basis data. Direktori data menyediakan definisi data dan fungsi utamanya untuk menjawab pertanyaan tentang kemampuan dari item data yang ada ,sumber item data dan arti eksak item data tersebut. Direktori data akan mendukung fase intelligent dari proses pembuatan keputusan. 

Subsistem Manajemen Model

Salah satu keunggulan dari SPK adalah kemempuan untuk mengintegrasikan akses data dan model-model keputusan. Hal ini dapat dilakukan dengan menambahkan model-model keputusan ke dalam sistem informasi yang menggunakan basis data sebagai mekanisme intgrasi dan komunikasi di antara model-model.

Subsistem manajemen model dibentuk dari beberapa elemen antara lain : basis model (model base), sistem manajemen basis model (model base management system), bahasa pemodelan (modelling language), direktori model (model directory), dan eksekusi, intgrasi dan perintah model (model execution, integration dan command ).

Di dalam basis model terdapat routine dan model-model stasistik, model-model finansial , model forecasting dan model-model kuantitif yang lain yang menyediakan kemampuan analisis dalam sebuah SPK. Kemampuan untuk meminta (invoke), menjalankan, mengubah, mengkombinasikan/mengabungkan dan memeriksa model adalah kunci kemampuan SPK yang berbeda dengan sistem berbasis komputer yang lain. 

Bahasa pemodelan digunakan untuk mengatasi kesulitan SPK dalam mengkostumisasi model. Bahasa pemodelan biasanya berupa high-level language misalnya COBOL, atau bahasa generasi keempat yang lain dan bahasa pemodelan khusus misalnya IFPS-Plus.
Sistem manajemen basis model (model base management system) berperan dalam menciptakan model menggunakan subrutin dan building block yang lain , memebentuk routine baru dan meng-update,merubah, dan memanipulasi model data.
Peran direktori model analog dengan peran direktori data pada basis data yaitu merupakan katalog dari semua model yang ada dan semua perangkat lunak lain dalam basis model. Di dalam direktori model terdapat definisi model dan fungsi utamanya untuk menjawab pertanyaan mengenai kemampuan dari sebuah model.

Eksekusi model (model execution) dalah proses pengontrolan sebuah model yang sedang berjalan. Penggabungan model (model integration) dapat diartikan sebagai penggabungan operasi dari beberapa model ketika dibutuhkan. Sedangkan sebuah pemroses perintah model (model command processor) digunakan untuk menerima dan menterjemahkan instruksi model dari komponen dialog dan melewatkannya ke model base management system, eksekusi model atau fungsi integrasi. 

Subsistem Manajemen Pengetahuan ( The Knowledge Subsystem)

Permasalahan yang dihadapi oleh SPK akan bertambah kompleks dan rumit sehingga diperlukan expertise untuk memberikan solusi yang baik di luar kemampuan SPK biasa. Expertise ini disediakan oleh sistem pakar atau sistem cerdas yang lain. SPK jenis ini dilengkapi dengan komponen yang disebut manajemen pengetahuan (knowledge management). 

Komponen manajemen pengetahuan menyediakan expertise yang diperlukan untuk memecahkan beberapa aspek permasalahan dan meyediakan pengetahuan yang bisamenigkatkan operasi dari komponen SPK yang lain.

Komponen pengetahuan bisa terdiri atas satu atau lebih sistem cerdas. SPK yang dilengkapi dengan sistem cerdas atau sistem pakar disebut intelligent DSS atau DSS/ES atau expert support system atau Knowledge- based DSS.

 

Subsistem Antarmuka / Dialog

Komponen antarmuka suatu SPK (Management of the User Interface Subsytem) adalah perangkat keras dan perangkat lunak yang memberi antarmuka antara pemakai dan SPK Komponen antarmuka menyajikan keluaran (output) SPK pada pemakai dan mengumpulkan masukan (input) ke dalam SPK Menurut Turban (1995), subsistem antarmuka dari suatu SPK harus mempunyai kemampuan seperti di bawah: 

a)      Menyediakan Graphical User Interface (GUI)

b)      Mengakomodasi user dengan bermacam piranti masukan (input)

c)      Menampilkan data dengan berbagai macam format dan piranti keluaran (output)

d)     Memberi kemampuan help, prompting, rutin diagnostic dan suggestion serta dukungan fleksibel yang lain

e)      Meyediakan interaksi dengan database dan basis model

f)       Menyimpan data masukan dan keluaran

g)      Mempunyai windows yang mengijinkan berbagai fungsi untuk ditampilkan serentak.

h)      Menyediakan dukungan komunikasi antara pemakai (user) dan pembuat (builder) SPK.

i)        Meyediakan latihan dengan contoh-contoh

j)        Menyediakan fleksibilitas dan adaptiveness sehingga SPK bisa mengakomodasi masalah dan teknologi yang berbeda.

k)      Mampu berinteraksi dalam berbagai gaya dialog yang berbeda.

Pengguna berinteraksi dengan komputer lewat action language yang diproses lewat user interface management system. Pada sistem terkini, komponen antarmuka telah dilengkapi natural language procesor dan mungkin memakai object standar (misalnya menu pull-down dan button) lewat Graphical User Interface (GUI).

Ada beberapa jenis gaya dialog untuk komunikasi antara user dan SPK (Suryadi,1998) antara lain:

a.Dialog tanya jawab

Dalam dialog jenis ini SPK bertanya kepada pemakai , kemudian pemakai memberi jawaban dan seterusnya sampai SPK membeikan jawaban yang diperlukan untuk mendukung keputusan.
b.Dialog Perintah 

Dalam dialog jenis ini, perintah digunakan untuk menjalankan fungsi- fungsi SPK. Format perintah biasanya menggunakan kata-kata standar dan pendek serta relatif mudah untuk dipelajari.

 

c.Dialog Menu

Gaya dialog ini paling populer dalam SPK. Dalam dialog gaya ini pemakai memilih satu dari beberapa alternatif menu dengan penekanan tombol keyboard atau klik mouse
d.Dialog form masukan/keluaran.

Dialog jenis ini menyediakan form masukan untuk memasukkan perintah dan data. Sedangkan form keluaran merupakan tangapan dari SPK. Sesudah form keluaran , biasanya pemakai dapat mengisi form masukan lain untuk melanjutkan dialog.
e.Dialog masukan dalam konteks keluaran

Perluasan dari dialog form masukan adalah dengan mengkombinasikan form masukan dan keluaran sehingga masukan dari pemakai selalu dalam konteks keluaran SPK sebelumnya. Dalam gaya dialog ini SPK memperlihatkan keluaran yang dapat diisi oleh pemakai sehingga bisa sekaligus mengubah keluaran.

***

 

like...